flag

free counters

Selasa, 27 Maret 2012

Jogja Hip Hop Fundation

Jogja Hip Hop Foundation, Dari Kampung ke Internasional (http://www.hiphopdiningrat.com/)


Jogja Hip Hop Foundation yang beranggotakan Marzuki Mohammad, Anto Gantas, Lukman, Balands, dan M2MX didirikan tahun 2003 oleh Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ, dengan tujuan untuk membantu aktivitas dan mempromosikan rap berbahasa Jawa.
Diawali dengan berbagai acara kecil seperti It's Hip Hop Reunion dan Angkringan Hip Hop, kemudian pada tahun 2006-2009 memulai proyek Poetry Battle, eksplorasi karya puisi Indonesia dari puisi-puisi tradisional hingga kontemporer dengan media hip hop. Dari proyek itu menghasilkan dua buah album kompilasi POETRY BATTLE 1 & 2, dan berhasil membentuk identitas dan sikap berkarya JHF
Dengan segala keunikan yang dimilikinya; mencampurkan musik hip hop dengan tradisi Jawa, JHF mulai diundang ke panggung-panggung internasional, diawali dengan pementasan di Esplanade Singapura tahun 2009, tahun 2011 JHF diundang pentas ke Canberra dan New York. Ditambah lagi pada tahun 2010, Jogja Hip Hop Foundation meluncurkan film dokumenter HIPHOPDININGRAT, sebuah potret perjalanan hip hop Jawa. Film itu kemudian mendapatkan respon positif dari berbagai media dan kemudian diundang ke berbagai festival film internasional.
Keterbatasan bahasa Jawa yang digunakan sebagai lirik rap yang mungkin susah mendapatkan tempat di industri musik Indonesia, mampu diatasi dengan caranya sendiri. Saat ini lagu-lagu dari JHF sudah menjadi lagu rakyat di Yogyakarta, terutama setelah diluncurkannya lagu Jogja Istimewa yang sudah menjadi soundtrack kehidupan rakyat Yogyakarta. Lagu itu dinyanyikan kolektif oleh Ki Jarot - akronim dari Kill The DJ, Jahanam, dan Rotra. Ketiganya adalah crew yang paling konsisten memproduksi lagu-lagu hip hop berbahasa dan bernuansa Jawa dan mempresentasikan eksistensi dari JHF.
Sementara itu HIPHOPDININGRAT adalah film dokumenter yang merupakan potret perjalanan sebuah komunitas hip hop dari kota Yogyakarta, di mana mereka mencampurkan musik urban dengan tradisi akar mereka, termasuk bahasa Jawa, tanpa tendensi kontemporer. Jogja Hip Hop Foundation memulainya dengan pentas-pentas di kampung hingga ke panggung internasional.
Film yang sudah mendapatkan banyak highlight dari berbagai media ini, adalah hasil ketekunan Kill The DJ sebagai pendiri Jogja Hip Hop Foundation, yang rajin mendokumentasikan berbagai aktivitasnya sejak 2003, kemudian dibantu oleh temannya Chandra Hutagaol sebagai Co-Director untuk menyusunnya menjadi sebuah kisah yang layak untuk ditonton.

Holobis kuntul baris, Jogja tetap istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya. Jogja istimewa untuk Indonesia,” demikian syair pembuka ”Jogja Istimewa”.

Lagu rap itu dinyanyikan kelompok musik hip hop Jawa Ki Jarot (Jogja Hip Hop Foundation) untuk mendorong DPRD DIY mendukung penetapan Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Senin siang itu, ”Jogja Istimewa” mengalun di radio-radio di Yogyakarta. Lagu itu dinilai pas mewakili perasaan warga Yogyakarta di tengah polemik pemilihan-penetapan kepala daerah DIY.

Meski dinyanyikan selengekan, lagu itu mengandung filosofi kuat. Sepenggal liriknya, ”Menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan, kesaktian tanpa ajian, kekayaan tanpa kemewahan,”. Lirik itu ajaran kerendahhatian.

Ki Jarot adalah kelompok musik gabungan penyanyi hip hop Jawa Marzuki Mohammad alias Kill The DJ alias Chebolang, Jahanam, dan Rotra. Mereka konsisten menyanyikan lagu rap dengan lirik berbahasa Jawa. Mereka mempertemukan musik afro-amerika dengan tradisi Jawa. Lagu Jahanam berjudul ”Tumini” sempat diputar berulang di televisi nasional.


”Hiphopdiningrat”


Perjalanan komunitas direkam pada film dokumenter ”Hiphopdiningrat”. Film berbahasa Jawa itu diputar pertama pada Festival Film Dokumenter (FFD) 2010, pekan lalu.

Film karya Marzuki dan Chandra Hutagaol tersebut merupakan kumpulan dokumentasi kegiatan komunitas Jogja Hip Hop Foundation 2003-2009. Isinya, perjalanan komunitas anak muda Yogyakarta yang bertahan dengan identitas ndesonya di tengah kuatnya pengaruh budaya Barat.

Hip hop bahasa Jawa muncul tahun 90-an dengan salah satu pentolannya, G-Stripe. Tahun 2003, Marzuki membentuk komunitas Jogja Hip Hop Foundation mewadahi kelompok musik hip hop Jawa itu. Ia menggandeng sinden terkenal Soimah, mempertebal sentuhan tradisi Jawa pada lagu-lagu mereka.

Saat menyanyi, gaya mereka khas penyanyi rap. Kacamata hitam, sepatu kets, dan topi terbalik. Namun, mereka selalu berbaju batik sebagai identitas. Musik hip hop itu pun sarat petuah dan filosofi Jawa. Bukan sumpah serapah.

Komunitas mereka khas. Sebagian besar anggota komunitas datang dari perkampungan dan teman nongkrong di jalanan. Lahirnya hip hop Jawa pun alami dan sederhana. ”Tak ada tendensi apa-apa saat menyanyi hip hop Jawa ini. Hanya ingin ngerap, tapi dengan bahasa yang kami kenal sehari-hari, bahasa Jawa,” kata Marzuki.




Eksistensi hip hop Jawa ditandai hajatan Poetry Battle (2006 dan 2009) yang diadakan Jogja Hip Hop Foundation. Peserta ditantang menyanyikan puisi-puisi Indonesia dalam musik rap. Kegiatan itu menggerakkan generasi muda menggeluti puisi-puisi yang lama terasing dari publiknya sendiri.

”Ini luar biasa, anak-anak muda ini berpuisi, menggali sastra yang lama terasing dari masyarakatnya sendiri, tanpa mereka sendiri menyadarinya,” kata Landung Simatupang, budayawan yang juga narasumber film ”Hiphopdiningrat”.

Lalu, lahirlah lagu ”Ngelmu Pring” yang liriknya diambil dari puisi Sindhunata. Bait-bait Serat Chentini pun lahir kembali.

Kini, pengaruh komunitas hip hop Jawa itu berkembang. Anggotanya dari anak SD sampai anak kuliahan. Tak sedikit dari kalangan tak mampu.

Muhammad Setiawan (15), anggota kelompok musik hip hop di Kampung Sayidan, mengatakan, di kampungnya ada dua kelompok beranggota belasan orang. ”Kami pada mulanya teman nongkrong, akhirnya jadi kelompok rap karena suka,” kata anak pedagang gorengan itu.

Di kancah internasional, hip hop Jawa kian dikenal. Pada 2009, Ki Jarot tampil di Singapura. Januari 2011, ia diundang tampil di Amerika Serikat.

Menurut budayawan Sindhunata, fenomena hip hop bahasa Jawa ini wujud kerinduan generasi muda kembali ke akar budayanya.

”Selama ini ada kekosongan di sini. Hip hop Jawa merupakan cara anak-anak muda menjawab kekosongan ini,” katanya.

Penulis dan peneliti budaya Elizabeth Inandiak mengatakan, komunitas itu salah satu keistimewaan Yogyakarta. Dari komunitas anak-anak muda, hip hop Jawa menyatukan Yogyakarta dalam Jogja Istimewa

Posts Tagged ‘Jogja Hip Hop Foundation’

Intel Visibly Smart – Jogja Hip Hop Foundation

Posted: October 17, 2011 in Video
Tags: Jogja Hip Hop Foundation, Video
Akhirnya video Intel Visibly Smart yang bercerita tentang Jogja Hip Hop Foundation (JHF) secara singkat ini diluncurkan juga. Kami sangat berbangga atas kerjasama mutualis dengan Intel Inside ini, dimana telah menempatkan kami tetap sebagai diri kami sendiri dengan segala kemandirian dan idealisme yang kami percaya dan telah kami bangun selama ini. Sebuah apresiasi atas dedikasi [...]

Video Klip — Jula-Juli Lolipop (NYC)

Posted: July 21, 2011 in Video
Tags: Jogja Hip Hop Foundation, Video
  Jula-Juli Lolipop ditulis oleh Sindhunata SJ, aransemen oleh Rotra, Klip sederhana ini dibuat di New York, Mei 2011. Terima kasih untuk bantuan teman-teman di New York; Ugoran Prasad, Mohamad Riza, Boy Avianto, juga untuk  X-CODE film atas editingnya.

Mantra-Mantra Jawa di New York (sebuah catatan perjalanan)

Posted: May 24, 2011 in Blog
Tags: Blog, Jogja Hip Hop Foundation
Akhirnya mimpi itu terwujud juga. Prosesnya sangat berbelit, tidak gampang menghadirkan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) ke New York. Pertama, banyak masalah teknis sehingga pementasan ekslusif JHF di New York ini harus mundur hingga tiga kali sejak Desember 2010, kemudian Januari 2011, dan akhirnya terlaksana Mei 2011. Kedua, bagaimana memberikan konteks yang tepat pementasan ekslusif [...]

Pemutaran Film HIPHOPDININGRAT

Posted: March 7, 2011 in Event
Tags: Event, Hiphopdiningrat, Jogja Hip Hop Foundation
Pemutaran Film Dokumenter HIPHOPDININGRAT a film by Marzuki Mohamad & Chandra Hutagaol Indonesia 2010 | Digital Color | 65 minutes | Java & Indonesia (with English Subtitle) Hiphopdiningrat adalah potret perjalanan sederhana sebuah komunitas hip hop dari kota Yogyakarta, dimana mereka mencampurkan musik urban dengan tradisi akar mereka, termasuk bahasa Jawa, tanpa tendensi kontemporer. Jogja [...]

Jadwal Jogja Hip Hop Foundation Maret 2011

Posted: February 28, 2011 in Event
Tags: Event, Hiphopdiningrat, Jogja Hip Hop Foundation
18 Maret Screening Tour & Show Case film doc. Hiphopdiningrat Komunitas Salihara (Jakarta) Screening: 14:00 & 16:00 Screening & Show Case: 19:00 21 Maret s/d 23 Maret Screening Tour & Show Case film doc. Hiphopdiningrat Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Jl Sagan No 3 Yogyakarta Screening & Show Case: 19:00 (Invitation Only) Screening: Setiap 16:00 & [...]

Jogja Istimewa (Official Klip)

Posted: February 15, 2011 in Video
Tags: Jogja Hip Hop Foundation, Video
Sejak pertama kali mempublikasikan lagu Jogja Istimewa bersama Ki Jarot (Kill the DJ, Jahanm, Rotra) dari Jogja Hip Hop Foundation, saya bercita-cita mempunyai video klip dokumenter dari peristiwa-peristiwa besar dan bersejarah berkaitan dari lagu tersebut. Meskipun tanpa sutradara dan konsep ndakik-ndakik, video klip ini akan selalu mengingatkan kita tentang peristiwa tersebut sepanjang masa. Banyak sekali [...]

Surat Penghargaan Kraton untuk lagu ‘Jogja Istimewa’

Posted: February 14, 2011 in Blog
Tags: Blog, Jogja Hip Hop Foundation
Pagi ini, 14 Februari 2011, tepat di hari Valentine dan pengumuman Grammy Award, saya dikejutkan oleh seorang pegawai Kraton yang datang ke rumah dan mengantarkan surat penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Jogja Hip Hop Foundation atas penciptaan dan dipopulerkannya lagu Jogja Istimewa. Mewakili teman-teman Ki Jarot (Kill the DJ, Jahanam, Rotra), saya menyampaikan terima [...]

Membunuh Hip Hop

Posted: January 3, 2011 in Blog
Tags: Blog, Jogja Hip Hop Foundation, Kill the DJ's Note
 “saya bosan membicarakan perihal hip-hop, tapi saya tertarik dengan apa yang bisa kita kerjakan dengan hip hop” Kalimat diatas pertama kali saya tulis tahun 2004, ketika bikin newsletter yang saya sebarkan di acara It’s Hip Hop Reunion, tepat setahun setelah saya mendirikan Jogja Hip Hop Foundation, dan itu mendasari semua pemikiran dan aktivitas saya dalam [...]

Hiphop van Yogyakarta

Posted: January 2, 2011 in Press
Tags: Hiphopdiningrat, Jogja Hip Hop Foundation, Press
Hip Hop van Yogyakarta Felix Dass | Sun, 01/02/2011 10:29 AM | Music Marzuki Mohammad a.k.a. Kill the DJ probably started the Yogya Hip-Hop Foundation simply to get recognition in Yogyakarta’s artsy environment. But, years later, he has found himself on the front lines, part of the arsenal in his own cultural revolution. Hiphop Diningrat, [...]

Hip Hop Jawa Juga Istimewa

Posted: December 16, 2010 in Press
Tags: Hiphopdiningrat, Jogja Hip Hop Foundation, Poetry Battle, Press
Hip Hop Jawa Juga Istimewa Kompas Kamis, 16 Desember 2010 | 15:16 WIB Lahir dari jalanan, musik hip hop berbahasa Jawa terus berkembang. Saat ini, jenis musik itu menjadi bagian keistimewaan Yogyakarta. Lagu mereka, ”Jogja Istimewa” berkumandang di hadapan puluhan ribu rakyat Yogyakarta untuk meneguhkan dukungan terhadap keistimewaan Yogyakarta. Holobis kuntul baris, Jogja tetap istimewa.



Beberapa Foto dari JHF :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar